
Hari
ini akan menjadi hari yang membahagiakan untukku, keluargaku, dan tentu saja
yang paling merasakan nikmatnya kebahagiaan itu adalah ibuku. Bertahun-tahun ibu
telah sendiri tanpa teman hidup di sampingnya yang menemani ibu dalam suka dan
duka, yang memberi semangat setiap waktunya.
Aku sangat bersyukur hari ini ibu akan meninggalkan status yang sudah lima
belas tahun ini mengiringinya. Setelah bercerai dengan ayah, hari ini ibu akan
memulai hidup baru dengan seorang laki-laki yang sangat mencintai ibu dan
berjanji akan memberikan kebahaiaan untuk ibu.
Aku akan pergi ke Bogor dan menetap di
sana bersama Kak Nadya dan Kak Ilham. Mereka berdua adalah anak-anaknya Ayah
Adam dari pernikahannya tetrdahulu. Di sana aku akan melanjutkan kembali
sekolahku yang sempat terhenti karena tanggungjawabku menghafal Al Qur’an.
‘Penghafal Al Qur’an adalah panji-panji Islam
Firman Allah itulah Al Qur’an
Ahli Al Qur’an adalah ahli Allah
Pembenci Al Qur’an adalah musuh Allah
Tiada seorangpun yang membaca Al Qur’an
Melainkan orang Islam yang beriman
Qur’an kita dari mu’jizat Nabi Muhammad, manusia pilihan
Keagungannya berguna atas ummat sepanjang masa
Bahagia bagi penghafal, dunia akhirat selamanya
Betapa tidak! Bila meninggal jasadnya takkan binasa
Banyak orang yang menghafal Al Qur’an
Hindarkanlah! Al Qur’an itu justru melaknatnya
Sebaik-baik manusia itu yang belajar Al Qur’an
Dengarkanlah! Bacalah Al Qur’an manakala berduka
Karena Al Qur’an itu obat penyembuh hati yang luka
Barang siapa yang membaca Al Qur’an,
Allah akan memuliakannya
Mudah-mudahan kamu, termasuk pemberi kabar gembira
Dan pemberi peringatan’
Begitu besar tanggungjawab penghafal Al Qur’an. Karena jika dia melupakan Al
Qur’an, berdosalah dia dan Al Qur’an akan melaknatnya. Namun, betapa besarnya
kebahagiaan yang akan dia peroleh jika dia selalu menjaga Al Qur’an dalam hati,
pikiran, dan kalbunya. Sungguh beruntungnya manusia yang dipilih Allah untuk
mengemban tanggungjawab besar itu. Karena ni’mat, anugrah, dan kasih sayang
Allah yang akan dia dapat.
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha linafsi bi mahril madzkur haalan!”
“Alhamdulillah, ya Allah.”
^_^
Tujuh hari setelah hari yang penuh air mata, aku dan dua kakak baruku bersiap-siap
untuk perjalanan ke Bogor. Kita hanya pergi bertiga karena Ayah dan Ibuku akan
menetap di Jawa Tengah.
“Fi, kamu udah siap belum?” tanya Kak Nadya.
“Iya, udah, Kak.” Aku jadi geli sendiri. Bahasa Indonesiaku lancar, tapi
logatku masih Jawa. Syukurlah Kak Nadya dan Kak Ilham tidak pernah
mentertawaiku. Setidaknya aku belum pernah mendapati mereka tertawa di depanku.
“Yang bagus di Bogor, jangan lupa Qur’annya. Sholatnya jangan ditinggal,”
nasihat Kakekku membuat aku meneteskan air mata.
“Insya Allah,”
Aku beruntung menjadi cucu pertama Kakekku. Aku bersyukur bisa merasakan kasih
sayang Kakekku yang masih segar bugar. Hampir setiap sore aku diajak
jalan-jalan, di gendong, dan masih banyak lagi. Sekarang Kakek semakin tua dan
pastinya sudah
tidak
kuasa lagi menggendongku. Dari semua cucu-cucu Kakek, mungkin hanya aku yang
pernah merasakannya. Sepupu-sepupuku yang lahir setelah aku, tidak seberuntung
aku. Karena Kakek semakin tua dan tentu saja kekuatannya tidak seperti dulu.
Jadi, Kakek sudah tidak kuat lagi untuk menggendong atau memanjakan cucu-cucu
Kakek yang lain seperti memanjakan aku.
“Kamu kalau nyetir hati-hati. Jangan ngebut. Pelan-pelan saja.”
Kakek menghimbau Kak Ilham. Padahal yang akan menyetir bukan hanya Kak Ilham,
tapi bergantian dengan Kak Nadya. Perjalanan pagi sampai sore, Kak Nadya yang
menyetir. Sedangkan malam hari akan menjadi bagiannya Kak Ilham.
Kak Ilham tersenyum dan mengangguk, “Saya bukan supir yang ugal-ugalan, Kek.
Jadi Kakek tenang saja, Insya Allah Nafika dan Kak Nadya akan sampai sampai
tujuan.”
Kakek dan orang-orang yang mengantar kepergian kami tertawa menanggapi
pernyataan Kak Ilham.
“Ya udah. Kakek, Ayah, Ibu, dan semuanya. Nadya, Ilham, dan Nafka pamit ke
Bogor. Kami minta doanya semoga kami selamat sampai ke Bogor, tidak ada masalah
dan halangan di tengah jalan.”
“Pasti, pasti. Ayah akan mendoakan kalian selalu.”
“Kalau butuh sesuat bilang sama Ibu,” ujar Ibu
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam…” jawab keluargaku serentak dengan melambaikan tangan.
^_^
Bogor masih sekitar tiga jam lagi. Cukup lama dari perkiraan perjalanan. Kak
Nadya menuruti nasehat Kakek untuk mengendarai mobil secara pelan-pelan.
Sampai-sampai Kak Ilham tidak sabar dan meminta untuk bergantian menyetir
mobil.
“Kak! Ayolah…! Cepet dikit! Kalau jalannya kayak gini, dua hari kita baru
nyampek Bogor!”
Kak Nadya tertawa kecil, “Udah! Lo tidur ja! Entar, bangun-bangun kita udah
nyampek rumah.”
“Gantian gue yang nyetir gih!” tukas Kak Ilham sembari menghadap Kak Nadya.
“Ilham, Sayang! Kamu bobok aja, ya? Nanti habis sholat maghrib, gantian kamu
yang nyetir. Oke?”
Aku yang sedari tadi setengah sadar mendengar perbincangan mereka berdua,
kembali melanjutkan tidurku yang sudah terganggu sepersekian menit. Samar-samar
masih kudengar suara musik dari radio mobil. Sebuah lagu cinta dari Band
pendatang baru yang sekarang ini sedang meledak di pasaran.
“Senyummu selalu terbayang
Menghiasi hari-hari penuh luka
Tak terbayang bila tak ada dirimu
Berjanji ku kan bahagiakanmu
Ho… Ho… Hooo…
Percayakan hatimu padaku
Tak akan kubuat luka hatimu
Ketulusan hatiku berkata
Kau cinta pertama dan terakhir…”
Suara merdu vokalis Band Cisia yang singkatan dari Cinta Indonesia ini
mengantarku sampai alam mimpi.
“Kak Nadya?” Aku terjaga dari tidur nyenyakku.
“Kita sudah sampai di rumah. Ayo, bangun!”
Aku melihat-lihat keadaan dari kaca mobil. Yang bisa kulihat hanya rumah-rumah
mewah yang tertata rapi dengan taman-taman yang sangat indah. Sekarang aku
berada di Bogor dan akan menempati sebuah rumah yang berada di kawasan yang cukup
elit.
“Terimakasih, Pak Ali.”
Pak Ali adalah satpam rumah yang membantuku membawa koper dan barang-barangku
yang lain.
“Sama-sama, Mbak.” Pak Ali tersenyum dan pamit untuk kembali bertugas menjaga
rumah.
Aku tutup pintu kamar dan langsung menjatuhkan tubuhku pada kasur yang sangat
empuk sampai kembali memejamkan mata.
“Pagi, Ka. Semalam tidur nyenyak?” sapa Kak Ilham yang berada di dapur dan
menawarkan segelas susu sapi segar dari dalam kulkas.
“Nyenyak banget! Sampai bangun jam enam.”
Kak Ilham memberikan gelas berisi penuh susu sapi dan meletakkannya di meja
makan.
“Kamu nggak sholat shubuh?”
“Oh,
aku masih haidl.”
“Haidl? Apa itu Haidl?”
“Haidl itu menstruasi. Dari bahasa Arab.”
“Oh…” Kak Ilham mengangguk-angguk dan tersenyum tipis.
“Ka! Lusa kamu mulai belajar sama guru privat yang udah ayah cariin buat
kamu. Buku-buku dari SMP kelas tujuh, delapan, sembilan sampai SMA kelas
sepuluh, sebelas, dua belas, udah dipesen juga. Mungkin besok udah nyampek
rumah. Kamu udah siap, kan?” ujar Kak Nadya yang sudah berada di belakangku.
“Insya Allah, siap!”
^_^
“Nama saya Kirana. Kamu bisa manggil saya Mbak Kira.”
Guru privat yang akan mengajariku mata pelajaran dari SMP sampai SMA datang
tepat pada waktunya. Mbak Kira akan menjadi guruku selama dua bulan penuh.
Jadwal belajar selama lima jam setiap hari dari pukul delapan pagi sampai pukul
satu siang.
Ayah Adam mencarikan aku seorang guru privat untuk memudahkanku mengikuti
setiap pelajaran di SMA nanti.
“Nama saya Nafika,”
Setelah sekian tahun aku tidak lagi bergelut dengan dunia pendidikan formal,
mulai hari ini aku harus pandai-pandai mengatur waktu untuk belajar dan mengaji
Al Qur’an. Aku tidak ingin kerja keras bertahun-tahun yang lalu dalam
menghafalkan Al Qur’an terbuang sia-sia hanya karena aku sibuk dengan kegiatan
baruku. Dan aku juga tidak ingin menjadi seorang manusia yang merugi. Seperti
sabda Nabi Muhammad SAW :
“Berpegang eratlah kamu sekalian dengan Al-Qur’an demi Dzat yang jiwa Muhammad
di tangan Nya, sungguh ia lebih mudah hilang daripada unta yang ditambatnya.”
(Muslim II/192)
“Dan ditampakkan kepadaku dosa umatku, maka aku tidak melihat dosa yang paling
besar dari surat atau ayat Al-Qur’an yang telah diberikannya kemudian ia
melupakannya.” (At-Tirmidzi V/179)
“Oke, Fika. Ini hari terakhir saya mengajar kamu. Dua bulan ini kamu sudah
sangat baik. Kamu cepet menyerap pelajaran yang Mbak Kira ajarin ke kamu. Yang
harus kamu pelajari terus menerus adalah Matematika dan Kimia. Secara rata-rata
nilai dua pelajaran itu, dibawah tujuh. Jadi kamu harus giat belajar. Semuanya
masih harus kamu pelajari. Jadi jangan malas-malasan!” ujar Mbak Kira di hari
terakhirnya menjadi guru privat ku. Hari ini tepat dua bulan aku belajar dengan
Mbak Kira. Lusa aku akan mengikuti ujian persamaan untuk kelas dua SMA.
“Mbak Kira minta maaf kalau selama dua bulan ini pernah ada salah sama kamu.
Dan Mbak juga berterima kasih kamu mau Mbak ajari.”
“Fika juga sama, Mbak. Minta maaf beribu maaf kalau Fika sering buat Mbak
jengkel dengan ketidaktahuan Fika tentang pelajaran-pelajaran yang Mbak
ajarkan. Dan Fika juga ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya karena Mbak
Kira bersedia menjadi guru Fika,”
^_^
“Ini adik kamu, Ham?” tanya Kepala Sekolah SMA 114. Namanya Pak Khalid.
Pak Khalid mempunyai kumis yang tebal.
“Iya, Pak.”
“Nafika,” Pak Khalid tersenyum ramah. “Selamat datang di SMA 114. Mulai hari
ini kamu adalah siswi di sini. Patuhi peraturan sekolah dan bawa nama baik
sekolah dimanapun kamu berada.”
Pak Khalid mengulurkan tangannya kepadaku yang segera aku balas dengan
menangkupkan kedua tanganku di depan dada. Aku tidak mungkin menjabat uluran
tangan Pak Khalid.
Untuk bersentuhan dengan Kak Ilham saja, aku belum pernah. Karena secara hukum
Islam, Kak Ilham tetap bukan mahromku walaupun Ayah Kak Ilham dan Ibuku sudah
menjadi sepasang suami istri.
Pak Khalid sendiri mengerti dan ikut menangkupkan kedua tangannya di depan
dada.
Seorang Ibu mengantarkan pesananku dan Kak Ilham. “Ini siapa Mas Ilham?” Ibu
itu bertanya.
“Ini Nafika, adik saya. Mulai hari ini dia sekolah disini.”
Aku mengulurkan tanganku. Ibu itu bernama Bu Siti. Beliau yang berjualan di
kantin sekolah sejak sepuluh tahun yang lalu. Umurnya sekarang sudah mencapai
enam puluh tahun.
“Selamat datang, Mbak Nafika.” ujar Bu Siti.
“Terima kasih, Bu,”
Kantin
menjadi semakin ramai. Sekarang ini memang jam istirahat, jadi banyak
siswa-siswi yang mampir ke kantin untuk sarapan pagi bagi yang belum sempat
sarapan di rumah, atau sekedar duduk-duduk ngegosip bersama.
“Ka! Lihat, deh!”
Kak Ilham mengarahkan matanya ke seseorang siswa laki-laki.
“Subhanallah…” ujarku dari dalam hati.
“Kenapa, Ka?” tanya Kak Ilham. “Nggak usah kaget gitu! Dia emang ganteng,
keren, cakep, perfect, deh! Tapi biasa aja, napa!” sindir Kak Ilham.
“Nggak ada manusia yang pantas disebut sempurna di dunia ini kecuali
Rosulullah,”
Kak Ilham mengacungkan dua jempolnya sebagai tanda setuju. “Namanya Hasan. Dia
sekelas sama Kakak. Dia ganteng…, tapi nggak ada cewek-cewek yang mau sama
dia.” kata Kak Ilham.
“Kenapa?”
Kak Ilham menarik napas. “Hasan bisa sekolah disini karena dapat beasiswa.
Kakek dan adiknya emang tinggal di luar negeri, tapi denger-denger mereka tuna
wisma. Bahasa kasarnya, gelandangan gitu.”
“Kak Ilham serius?”
Kak Ilham menganggukkan kepalanya. “Satu lagi. Ayahnya meninggal dan Ibunya…, di
vonis masuk penjara seumur hidup!”
“Kok, bisa???”
“Ibunya yang membunuh Ayahnya, dan pengedar narkoba kelas kakap. Hasan
cerita, sewaktu membunuh Ayahnya, Ibunya mabuk berat!”
“Astaghfirullah…” ujarku.
“Kamu…, setelah mendengar cerita Kakak, malu nggak kalau seandainya
beteman dengan Hasan?”
“Kenapa harus malu?”
“Banyak cewek-cewek di sekolah ini yang menjauh dari Hasan. Alasannya seh,
macem-macem. Ada yang nggak bilang nggak mau berteman sama anak seorang
pembunuh, ada yang bilang karena dia bukan cowok tajir, dan banyak alasan yang
menurut Kakak nggak masuk akal!”
^_^
Teman satu bangkuku bernama Salsabila, yang akrab dipanggil Salsa. Dia sama
dengan Hasan. Memperoleh kesempatan bersekolah disini karena mendapat beasiswa.
Orangtua Salsa bukan orang yang berada. Ayahnya seorang kuli bangunan,
sedangkan ibunya berjualan nasi pecel keliling. Tetapi, Salsa murid yang sangat
cerdas dan rajin. Selama SMP sampai SMA kelas dua sekarang, Salsa selalu
menjadi juara kelas. Banyak pula guru-guru yang menyayanginya. Teman-teman
sekolah juga banyak yang menyukai Salsa. Laki-laki, perempuan, semua menganggap
Salsa adalah teman yang baik, mudah bergaul, dan pengertian. Orangnya juga
asyik dan nyambung diajak bicara.
“Nanti siang setelah sekolah selesai ada acara di musholla sekolah. Kamu
ikut, kan, Fik?” tanya Salsa. Dia memang belum menjadi wanita muslimah
berjilbab, namun untuk menghadiri acara-acara keagamaan yang diadakan sekolah,
Salsa tidak mau ketinggalan. “Pembicaranya Ustadz Mahdi. Beliau Ustadz yang
menjadi langganan sekolah kita ini. Kamu tahu kenapa?”
Aku menggeleng dengan seulas senyum.
“Karena…, Ustadz Mahdi cakep! Masih muda, single lagi!” Salsa tertawa melihatku
melotot keheranan. “Jadi, kamu mau ikut, kan?” tanya Salsa memastikan.
“Iya, ya! Insya Allah aku ikut.” Jawabku. Salsa merangkul bahuku sembari
tersenyum genit. “Emang, temanya apa?” Aku balik bertanya.
Salsa melepaskan pelukannya dan mengambil sebuah kitab dari dalam tasnya. “Tema
hari ini, tentang fardlu wudlu.”
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…” Ustadz Mahdi membuka pengajian
siang ini.
“Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh…”
“Hari ini kita akan membahas tentang fardlunya wudlu.” Ustadz Mahdi membuka
kitabnya. “Ada berapa fardlunya wudlu?” Ustadz Mahdi bertanya. Lebih tepatnya
menguji pengetahuan kami.
“6…” jawabku dan beberapa murid lain.
“Ya! Tepat sekali.” Ustadz Mahdi membenarkan jawaban kami.
Ustadz Mahdi lantas menerangkan apa saja fardlunya wudlu, “Yang pertama adalah
niat bersuci untuk melakukan sholat di
dalam
hati. Atau niat yang lainnya yang diperbolehkan. Sedangkan niat itu bersamaan
dengan membasuh wajah.
Yang kedua, membasuh wajah seluruhnya. Yaitu mulai dari tempat tumbuhnya rambut
sampai dagu. Dan dari telinga satu ke telinga yang lain. Adapun yang wajib
dibasuh itu adalah kulit dan rambutnya. Tidak wajib membasuh bathinnya
jenggontnya laki-laki, dan jambang apabila tebal.
Fardlu wudlu yang ketiga, membasuh kedua tangan sampai siku-siku dan sesuatu
yang ada diatasnya.” Ustadz Mahdi mengarahkan pandangannya ke murid-murid yang
beberapa ada yang serius mencatat keterangan dari beliau dan beberapa ada yang
sibuk memandangi sang Ustadz keren.
“Selanjutnya yang keempat adalah mengusap kepala atau sebagiannya. Walaupun
hanya sehelai rambut. Kelima, Membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Atau
mengusap muzah apabila sudah memenuhi syarat”.
Ustadz Mahdi menutup bukunya yang sedari tadi beliau menulis sesuatu
didalamnya.
“Dan yang terakhir, tertib.”
Ustadz Mahdi memperbaiki letak duduknya.Murid-murid yang kelelahan juga mulai
bergerak dan merenggangkan otot-otot yang pegal.
“Fardlu sholat disini berlaku untuk sholat fardlu ataupun sholat sunah.
Jadi, kalau kita akan mengerjakan sholat, terlebih dahulu kita berwudlu dan
harus memenuhi fardlunya wudlu.
Fardlu wudlu yang pertama niat. Segala sesuatu tergantung niatnya, dan niat itu
letaknya di dalam hati. Kalau hanya diucapkan di lisan, itu sunnah. Boleh jika
kita hanya berniat seperti ini…”
Ustadz Mahdi melafalkan niat berwudlu. “Nawaytul wudlua fardlollillahi
ta’aalaa”.
Beliau melanjutkan keterangannya. “Jika niat berwudlu tidak dilakukan bersamaan
dengan permulaan membasuh wajah, maka wudlunya tidak sah.
Membasuh wajah dari mulai tumbuhnya rambut sampai dagu. Atas ke bawah. Lalu
kanan ke kiri atau dari telinga kanan ke telinga kiri. Semuanya harus terkena
air. Namun, diberi kemudahan bagi yang mempunyai jenggot atau jambang yang
tebal. Hanya diwajibkan membasuh dzohirnya, bagian yang tampak. Dan disunnahkan
untuk menyeka-nyekanya.
Ketebalan jenggot dan jambang apabila dilihat dari depan, tidak terlihat kulit
wajahnya.
Membasuh tangan. Semua yang ada diatasnya, adalah bulu juga kuku-kuku.
Penjelasan fardlu wudlu yang keempat adalah mengusap kepala atau sebagiannya.
Disini yang dimaksud adalah mengusap rambut. Ada yang berpendapat bahwa
mengusap rambut harus ada tiga helai , tidak cukup jika hanya satu helai rambut
yang diusap. Pendapat ini sesuai dengan memotong rambut ketika ihrom yang harus
ada tiga helai. Rambut yang wajib terkena basuhan adalah rambut yang masih
berada dalam batas kepala. Tidak diperbolehkan membasuh rambut yang melambai di
luar batas kepala. Jadi, untuk Ukhti-ukhti yang berambut panjang, rambut yang
harus terkena air adalah yang masih menempel pada kulit kepala. Faham,
semuanya?”
“Faham, Ustadz...,”
“Yang kelima, membasuh kedua kaki. Batasnya sampai mata kaki. Jika ada
seseorang yang cacat kakinya, maka cukup membasuh yang ada. Sedangkan muzah
adalah semacam alas kaki yang biasa digunakan orang jaman dulu.
Terakhir adalah tertib. Tidak boleh mengusap kedua kaki menjadi urutan pertama.
Semuanya harus urut. Dimulai dari niat, lalu membasuh wajah, membasuh kedua
tangan, mengusap kepala, dan yang terakhir membasuh kedua kaki.”
Ustadz Mahdi menutup kitab dan bukunya. “Ada yang mau bertanya?”
“Saya, Ustadz!” Gita yang duduk di barisan depan mengacungkan jarinya. “Emm…,
Kalau kita wudlu terus bersentuhan sama lawan jenis, gimana, Ustadz?” tanya
Gita dengan aksen centinya. “Padahal bersentuhnya itu tidak disengaja. Apa
tetep harus wudlu lagi?”
Ustadz Mahdi tersenyum. Beliau mengedarkan pandangannya ke seluruh murid. “Ada
yang tahu jawaban dari pertanyaan Gita?” Ustadz Mahdi suka sekali menguji
pengetahuan kami.
“Ustadz…” Hasan meminta ijin untuk memberikan jawaban dari pertanyaan Gita.
Ustadz Hamid mempersilahkannya berdiri.
“Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya serta
sama-sama besar adalah membatalkan wudlu. Secara sengaja ataupun tidak sengaja.
Yang tidak membatalkan apabila ragu-ragu atau tidak yakin bersentuhan.”
Hasan kembali duduk.
“Terimakasih, Hasan.” Ustadz Mahdi kembali melontarkan pertanyaan untuk
kami, “Ada yang ingin menambahkan penjelasan dari Hasan?”
Sesaat hening. Ustadz Mahdi membiarkan kami yang diam dan tidak ada salah satu
dari kami yang mengangkat tangan.
Walaupun
sebenarnya, aku punya penjelasan lain yang dipertanyakan Ustadz Mahdi.
“Siapa yang menyembunyikan ilmu, kelak di hari kiamat Allah akan melucutinya
dengan cambuk api!”
Salsa mengangkat tangan dan lansung berdiri. “Saya minta maaf. Saya kelamaan
mencari catatan tentang bab fardlu wudlu ini.” ujarnya. “Jadi, selain
keterangan yang dijelaskan Akhi Hasan tadi, saya ingin menambahkan bahwa yang
termasuk membatalkan wudlu adalah bersentuhan dengan bulu kumis dan bibir.
Sedangkan yang tidak membatalkan wudlu adalah bersentuhan dengan kuku dan
gigi.” Salsa menarik nafas dalam dan menatapku sejenak. Aku membalasnya dengan
senyum.
“Tidak membatalkan wudlu jika bersentuhan dengan anak kecil yang tidak
mensyahwati. Menurut Syeh Abdu Hamid, tidak membatalkan wudlu apabila anak
kecil itu masih berumur empat tahun, sedangkan bila anak kecil itu sudah
berumur tujuh tahun, itu sudah membatalkan wudlu. Akan tetapi, semua
dikembalikan pada pribadi masing-masing. Bila menyentuh anak kecil dibawah
tujuh tahun sudah merasakan syahwat, maka itu membatalkan wudlu.” Salsa
menyelesaikan penjelasannya dan Ustadz Hamid menyuruhnya duduk.
“Terima kasih, Sa.” Ujar Ustadz Mahdi.
Merasa tidak ada yang akan bertanya lagi, Ustadz Mahdi menutup pengajian siang
ini. “Baik. Sekarang sudah memasuki waktu sholat ‘ashar. Sebaiknya kita sholat
berjama’ah dulu.” Kata Ustadz Mahdi. “Sebelum dan sesudahnya Ana meminta maaf
apabila dalam menyampaikan ilmu di siang hari ini belum memberi kepuasan untuk
antum. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…”
“Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh…”
Hampir semua siswa-siswi mengikuti ajakan Ustadz Mahdi untuk melakukan sholat
‘ashar berjama’ah. Aku melihat Kak Ilham juga akan melakukan sholat ‘ashar
disini. Begitupun aku dan Salsa.
“Sa…, Aku minta maaf, ya?”
“Udah, nggak usah dipikirin. Aku tau kok, kenapa kamu nyuruh aku yang
menjelaskan batal tidaknya wudlu tadi.”
“Kamu tau, Sa?”
“Kamu nggak mau dibilang murid baru yang sok pinter, kan?”
Aku tersenyum. “Ya, kamu bener.”
“Salsa gitu, loh!”
^_^
Malam minggu kelabu bagi muda-mudi yang tengah asyik berpacaran. Aku
senyum-senyum sendiri membayangkan pasangan kekasih yang sedang asyik
berciuman, merayu pasangannya, tiba-tiba harus lari tunggang langgang mencari
tempat berteduh untuk berlindung dari hujan lebat yang tiba-tiba mengguyur kota
Bogor.
Hujan-hujan seperti ini paling enak berada di rumah sembari makan mie rebus dan
dilengkapi dengan teh manis hangat.
“Makan apa, Ka?”
“Eh, Kak Ilham. Makan mie rebus neh! Laper!” jawabku. “Kak Ilham mau, nggak?”
Kak Ilham duduk di ruang tengah membawa secarik kertas. “Oh, nggak usah.
Makasih…, Kak Ilham masih kenyang.”
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Tidak ada salahnya aku menemani Kak
Ilham sebentar. “Kak Ilham kenapa nggak tidur?”
Kak Ilham mengangkat mukanya. “Belum ngantuk.” Jawabnya singkat. “Kamu sendiri,
kenapa juga belum tidur?”
“Belum ngantuk,”
Kak Ilham lantas mengajakku ngobrol. Dia bertanya tentang hukumnya orang yang
berpacaran.
“Setahu aku, pacaran itu mendekati zina dan hukumnya haram.”
“Gitu, ya?”
“He’eh. Jangankan pacaran, kalau kita berpandangan dengan lawan jenis setelah
pandangan pertama aja, kita udah kena anak panah iblis! Jadi, pandangan pertama
atau yang tidak disengaja itu dimaafkan. Tapi kalau kita sudah mengdipkan mata
lalu berpandangan lagi dengan sengaja, berarti iblis sudah berhasil memanah
kita,”
“Seandainya kamu ada yang nembak, kamu mau nerima dia ngga?” tanya Kak Ilham.
“Insya Allah, ngga.”
“Kenapa?”
“Aku punya prinsip kalau aku ingin berpacaran dengan suamiku kelak. Jadi, aku
tetep bisa merasakan pacaran dan bermesra-mesraan, tapi dengan orang yang sudah
halal untukku. Insya Allah pahala yang aku dan suamiku dapat, bukannya dosa dan
laknat.
Juga,
menurutku lebih romantis kayak gitu.”
“Maksudnya?”
“Untuk pertama kalinya bermesraan, aku melakukannya dengan laki-laki yang sudah
halal bagiku. Romantis, kan?”
^_^
Di kantin masih sepi. Hanya ada aku, Kak Ilham, bu Siti, dua cewek anak kelas
satu, dan tiga cowok anak kelas tiga. Dua adik kelasku duduk di meja yang
bersebelahan dengan meja yang aku tempati dengan Kak Ilham.
“Assalamu’alaikum..., Ham, Ka.”
Seseorang mengucapkan salam kepadaku dan Kak Ilham.
“Wa’alaikumussalam…” jawab Kak Ilham. Aku menjawab dengan suara pelan. “Hai,
San!” Kak Ilham menyapanya.
Aku tidak tahu mengapa! Aku jadi berdebar-debar melihat Hasan ada didekatku.
Tubuhku gemetaran!Mulutku seakan terkunci! Aku bahkan tidak sanggup
menggerakkan tubuhku! Aku tak kuasa mengangkat kepalaku! Aku belum pernah
merasakan saat-saat ini dalam hidupku!
“Fika!”
Kak Ilham menyadarkanku dari lamunanku.
“Kamu kenapa? Kayak abis liat setan!”
“Ah! Masak seh?” Aku mencoba bersikap normal.
Ternyata Hasan sudah tidak ada disebelah Kak Ilham.
Kak Ilham mengisyaratkan aku untuk mendekat. “Nafika…, Kamu…, Fall in love.”
Aku tertegun mendengar Kak Ilham mengatakan aku sedang jatuh cinta. “Jatuh
cinta? Sama siapa?” nada suaraku agak bergetar.
Kak Ilham tersenyum menggoda. Sengaja membuatku semakin penasaran. “HASAN
ALHABSYI!”
Hasan??? Aku jatuh cinta??? Benarkakh itu???
Aku mencoba mengelaknya. Namun, Kak Ilham telah meninggalkanku sendiri
memikirkan masalah hati yang kini menimpaku.
“Ka…” Salsa melambaikan tangannya. Dia sepertinya membawa suatu kabar.
“Kamu tau, nggak?” tanyanya ketika sudah berada disampingku.
“Nggak.”
“Lusa, akan ada tes untuk pengajiannya Ustadz Mahdi.”
“Oya?”
“Iya! Ada tiga bab yang akan dijadikan bahan ujian. Fardlu wudlu yang kemarin,
perkara yang membatalkan wudlu, sama bab istinja’. Nggak ada kewajiban buat
ikut tes. Mau ikut Alhamdulillah, nggak ikut juga nggak apa-apa.” Kata Salsa
bersemangat.
“Enak banget!”
“Kamu ikut, ya? Kamu emang baru sekali sih, ikut pengajiannya, tapi, kamu kan,
udah pinter. Mau, ya? Temani aku?” Salsa mengajakku ikut tes.
Aku menatap mata Salsa yang mengharapkan sekali aku ikut tes menemani dia.
“Ok! Aku ikut.”
Salsa tersenyum ceria.
“Ka, kita daftar sekarang atau nanti?”
“Nanti aja, deh! Bentar lagi bel masuk.”
^_^
Hari ini jadwalnya tes pengajiannya Ustadz Mahdi berlangsung. Aku baru tahu
kalau yang mengusulkan diadakannya ujian ini adalah Kak Ilham dan Hasan.
“Kamu sudah siap, Ka?” tanya Salsa. Dia kelihatan agak gugup.
“Alhamdulillah, sudah. Kamu?”
“E…, iya! Udah-udah.”
Ada tiga puluh orang yang ikut ujian. Ini diatas perkiraan Kak Ilham yang
mengira hanya belasan orang yang tertarik mengikuti ujian. Tapi, satu prediksi
Kak Ilham ada yang tepat. Peserta ceweknya nggak lebih dari sepuluh orang. Dua
diantaranya aku dan Salsa.
“Assalamu’alaikum, Ukhti…”
“Wa’alaikumussalam,”
“Saya minta tolong, Ukhti Nafika membagikan kertas soal-soal ujian ini untuk peserta
akhwat yang lain. Ngga apa-apa, kan?”
“Oh! Ngga, ngga apa-apa,” Aku meraih lima kertas yang disodorkan Hasan.
“Syukron, Ukhti.”
Aku mengangguk saja.
Segera kubagikan kertas soal-soal tadi kepada peserta ujian. Cukup banyak soal
yang tertera di kertas itu. Ada tiga puluh lima soal yang harus kami selesaikan
dalam waktu satu jam tiga puluh menit.
“Baca Basmalah dulu sebelum mengerjakannya.” Ujar Ustadz Mahdi.
1. Ada berapakah perkara yang membatalkan wudlu? Sebutkan 3!
2. Bagaimana hukumnya jika laki-laki dan perempuan yang sama-sama besar bukan
mahrom bersentuhan ketika mereka dalam keadaan mempunyai wudlu?
3. Ada berapakah fardlunya wudlu? Sebutkan tiga saja!
4. Kapankah niat berwudlu itu?
5. Wajib membasuh wajah mulai dari …
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Waktu yang diberikan telah habis. Salsa mengumpulkan kertas-kertas ujian kami
para akhwat.
“Gimana, Ka? Gampang atau susah soalnya?” tanya Kak Ilham yang menyusulku ke
kantin.
“Gampang atau susah, Alhamdulillah nggak ada yang kosong.”
“Siapa seh, yang buat soal-soalnya? Banyak banget!” gerutu Salsa.
Kak Ilham melempari Salsa dengan kacang polong. “Ustadz Mahdi sendiri yang buat
soal-soal itu!”
Kak Ilham melihat Hasan yang sedang memesan makanan dan mengajaknya bergabung
dengan kami.
Hasan dan Kak Ilham lantas asyik mengobrol. Sedangkan aku mendengarkan
‘curhatan’ Salsa tentang seorang cowok yang baru saja nembak dia. Cowok ini
adalah cowok ke lima yang sudah menyatakan cintanya pada Salsa.
“Namanya Fahmi. Dia temennya kakakku. Terima nggak, ya?”
“Menurut pandangan kamu dia gimana?”
Salsa menggaruk kepalanya walaupun sebenarnya dia tidak merasa gatal. “Fahmi
itu cakep, cool, pinter, sopan, simple, baik…banget!”
“Menurut aku, lebih baik kalian jadi teman aja. Kalau waktunya tepat dan,
kalian sudah saling cinta, cocok dari pihak keluarga dan kaliannya sendiri,
langsung nikah,”
Sekejapan aku merasa Hasan menatapku.
“Lho! Kenapa?”
Kutatap mata Salsa serius. “Pacaran itu haram. Kamu udah tau itu, kan?”
Salsa terlihat kecewa dengan saranku. “Tapi…” Salsa menundukkan kepalanya.
“Gimana kalau aku dan Fahmi pacaran, tapi nggak pake’ pegang-pegangan, ciuman,
berdua-duaan. Gimana?”
“Gimana dengan hati kamu? Hati Fahmi?”
“Kenapa dengan hatiku dan Fahmi?” tanyanya bingung.
“Setan bisa menggoda kita lewat mana saja. Dari tangan, bibir, kaki, bahkan
dari hati. Justru hati sangat berbahaya jika kita tidak menjaganya! Gimana
kalau kamu sedang kangen sama dia?” tanyaku. “Kamu akan mikirin dia terus! Lalu
kamu lupa sholat, atau bisa jadi kamu nggak lupa sholat, tapi yang terbayang
cuma Fahmi di dalam sholat kamu. Lupa belajar juga, lupa makan, dan lupa
kegiatan kamu yang lainnya. Gimana?”
Aku bingung melihat Salsa meneteskan air mata. Kak Ilham dan Hasan ikut
bertanya kenapa Salsa menangis. Salsa menatapku dalam dan tersenyum.
“Makasih, Ka!”
Aku tidak mengerti maksud Salsa. Dia begitu saja berlari setelah mengucapkan
terima kasih. Untuk apa dia lari? Untuk apa terima kasih itu?
“Apa omonganku tadi salah?” tanyaku pada Kak Ilham.
“Dia butuh waktu untuk sendiri.” Katanya menghiburku.
Kutengok
arloji di tanganku. Sudah hampir jam setengah empat. Tapi, tidak juga kulihat
taksi lewat di depan sekolah. Semestinya, aku pulang dengan Kak Ilham. Tapi,
kebetulan dia ada urusan dengan Pak Kepsek, jadilah aku disuruh naik taksi.
Lama juga aku menunggu taksi lewat. Dari jam setengah tiga sampai setengah
empat kurang sepuluh menit.
Dari pada menunggu sesuatu yang tidak pasti seperti ini, aku memutuskan untuk
mengerjakan sholat ashar di masjid sekolah.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumussalam..., Akh Hasan.” Jawabku cukup santai. Aku tidak mau terbawa
hawa nafsuku. Apalagi sekarang aku berada di dalam rumah Allah. “Akhi mau
sholat ‘ashar?”
“Na’am,”
Akhirnya kami sholat ‘ashar berjama’ah. Hasan menjadi imam yang baik. Dia tidak
terlampau cepat, juga tidak terlalu lama.
Hasan keluar masjid lebih dahulu. Mungkin dia terburu-buru kembali ke ruang
KepSek. Maklumlah, selain Kak Ilham, Hasan juga diminta KepSek untuk membantu
beliau. Setahu aku, Kak Ilham dan Hasan adalah murid-murid kesayangan Pak
Khalid. Selain cerdas, mereka juga cekatan.
“Akh Hasan?” Aku melihat Hasan yang sedang duduk di teras masjid. “Kok disini?”
tanyaku. “Bukannya, ada urusan sama Pak Khalid?”
Hasan berdiri dan menghampiriku. Sedikit ada rasa lain begitu dia berada di
dekatku. “Urusan ana sama Pak Khalid sudah selesai. Beliau mengijinkan ana
pulang.”
“Jadi, Kak Ilham juga udah selesai?”
“Ilham belum selesai. Dia masih dibutuhkan Pak Khalid.” jawabnya. “Ilham
memberi ana amanat.”
“Amanat apa?”
“Ilham bilang, kalau Ukhti masih ada di sekolah, ana dimintai tolong untuk
mengantar Ukhti pulang.”
Apa maksud Kak Ilham meminta Hasan mengantarku pulang? Aku harus bagaimana? Aku
tolak niat baiknya mengantarku pulang atau aku pulang diantar Hasan?
Kak Ilham! Kamu membuatku dalam situasi yang sulit.
“Ukhti?”
“Ya?”
“Kita berangkat sekarang, Ukhti?” tanyanya. “Sepertinya akan turun hujan.” Dia
memberiku sebuah helm.
Ya Allah! Semoga kami terlindungi dari fitnah.
Aku sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan Hasan. Di tengah-tengah antara
aku dan Hasan, aku halang-halangi dengan tas sekolahku. Dari sekolah sampai
rumah, aku tidak henti-hentinya membaca istighfar dan memejamkan mata. Aku
tidak akan memanjakan rasa yang membuatku kalut ini. Aku sangat tidak ikhlas
bila rasa ini tumbuh menjadi cinta yang tidak terbendung lagi. Karena aku ingin
memiliki cinta yang suci. Cinta yang halal.
Hujan mulai turun ketika kami sudah sampai gerbang perumahan. Motor melaju
lebih cepat. Secepat apapun motor melaju, aku dan Hasan tetap basah kuyup
dibuatnya.
“Antum masuk dulu, ya?” ajakku. “Hujannya lebat! Bahaya kalau pulang sekarang.”
Hasan agak ragu-ragu dengan ajakanku. Aku tahu, Hasan tentunya keberatan bila
hanya berduaan denganku di dalam rumah.
“Ada Kak Nadya, Mbok Ima, sama Pak Ali di rumah.”
Hasan akhirnya setuju untuk masuk rumah. Hujan terlalu lebat untuk dilawan.
“Silahkan duduk.” Aku persilahkan dia duduk di ruang tengah. Mbok Ima kuminta
membuatkan teh hangat. Sedangkan aku naik ke lantai dua. Aku harus mengganti
seragam sekolahku yang basah kuyup. Aku juga mengambilkan kaos dan celana jeans
milik Kak Ilham untuk Hasan.
“Afwan, Akh. Ini punya Kak Ilham.” Aku menyodorkan kaos dan jeans. “Kamar
mandinya ada di belakang.”
“Syukron, Ukh.”
“Sama-sama.”
Mbok Ima menghampiriku membawa satu piring pisang goreng yang masih panas. “Mas
Hasan tambah cakep, ya, Non!”
Aku tertawa mendengar Mbok Ima yang mengeluarkan kegenitannya. “Mbok! Bisa
aja.”
Mbok Ima ikut tertawa. “Dulu waktu masih kecil, Mas Hasan imut banget, lho,
Non!”
Mbok Ima mulai bercerita macam-macam tentang Hasan. Ternyata Kak Ilham dan
Hasan sudah berteman sejak berusia sepuluh tahun. Sejak dari SD sampai SMA,
mereka selalu satu sekolah dan satu kelas. Kebersamaan mereka terjalin sangat
erat. Kak
Ilham sudah menganggap Hasan seperti adiknya sendiri. Secara Hasan lebih
muda tiga bulan dari Kak Ilham. Ayah Adam juga memperlakukan Hasan seperti anak
sendiri. Kak Nadya juga menganggap Hasan sebagai adiknya.
“Mbok! Ka!” Kak Nadya memanggil Mbok Ima. “Tadi aku denger pada ngomongin
Hasan, ya?” tanya Kak Nadya. “Hasan kesini?”
“Iya, Kak!” jawabku sembari menawarkan pisang goreng buatan Mbok Ima. “Tadi dia
nganter aku pulang.”
“Oh! Sekarang dia dimana?”
“Di kamar mandi. Bajunya basah kuyup. Jadi, aku pinjamin kaosnya Kak Ilham.”
Kak Nadya menatapku aneh. Senyumnya menggoda seperti yang pernah diperlihatkan
Kak Ilham tempo hari ketika mengatakan kalau aku jatuh cinta sama Hasan.
“Kamu…, perhatian banget sama Hasan!”
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku tidak boleh terlihat gugup atau kaget.
Hasan keluar dari kamar mandi. Seragam sekolahnya sudah diganti dengan kaos
milik Kak Ilham. Kuakui, dia memang terlihat lebih cool dengan kaos biru tua
dan jeans. Dan rambutnya yang masih basah… Astaghfirullah!
“Hai, San!” sapa Kak Nadya. “Udah lama ngga mampir rumah?” Kak Nadya
memberikan kantong plastik yang sudah aku siapkan untuk tempat seragamnya
Hasan.
“Iya, Kak. Maklum lah, bantu Ibu cari uang,”
Begitu hujan reda, Ilham pamit untuk segera pulang. Kak Nadya yang memaksanya
untuk makan malam di rumah pun ditolaknya halus.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Tak terkira
waktu sangat cepat berlalu. Kini aku menginjak kelas tiga SMA. Kak Ilham dan
Hasan telah meninggilkan seragam ‘putih abu-abu’. Mereka sekarang akan memasuki
universitas. Kak Ilham berencana akan masuk di salah satu universitas di
Jakarta. Sedangkan Hasan, sejak kelulusan, dia seakan menghilang bak ditelan
bumi. Tak ada teman-temannya yang tahu kemana Hasan. Bahkan Kak Ilham sekalipun.
Desas-desus mengatakan kalau Hasan menjadi gelandangan di Ibu Kota. Ada juga
yang bilang kalau Hasan bunuh diri karena depresi dengan keadaannya. Semua
kabar itu aneh. Aku yakin Hasan tak mungkin menjadi gelandangan apalagi bunuh
diri.
Salsa pun sejak hari dia marah, aku tak pernah melihat dia lagi. Saat aku
konfirmasi ke KepSek, beliau bilang kalau Salsa pindah sekolah. Aku mencoba
bertanya ke rumahnya, tapi sayang beribu sayang. Tetangganya bilang kalau Salsa
dan keluarganya sudah pindah. Sebegitu marahnya Salsa sampai dia harus pindah
rumah juga.
“Apa ini, Kak?”
Kak Ilham memberikanku sebuah bingkisan kotak sebelum dia merantau ke Jakarta.
“Dari Hasan,”
Aku pun lantas membuka bingkisan itu. Secarik kertas aku raih dari dalam kotak.
Ila ukhti,Nafika Zahra
Ana uhibbuki....
Hasan
Alhabsyi :
“Untuk saudariku, Nafika Zahra. Aku mencintaimu. Hasan Alhabsyi. Ini maksudnya
apa?” Aku meraih sebuah cincin perak putih yang berada di bawah kertas tadi.
“Hasan juga mencintai kamu. Dia ingin kamu menunggunya,”
“Menunggu? Untuk apa?” Aku semakin tak mengerti.
Kak Ilham menarik napas. “Sebenarnya dia ingin secepatnya berta’aruf sama kamu.
Tapi Kak Ilham ngasih saran agar dia jadi orang yang sukses dulu. Kakak ngga
ingin adik Kakak ini menikah dengan orang yang ngga bertanggungjawab.
Sebenarnya Kakak yakin Hasan orang yang bertanggungjawab dan setia, tapi Kakak
ingin dia juga tidak hanya bermodalkan cinta, tapi juga harus memberikan masa
depan yang baik untuk kamu juga anak-anak kamu kelak. Kamu ngga marah, kan?”
Aku tersenyum.
Kak Ilham tidak menceritakan dimana Hasan sekarang. Akupun tak ingin bertanya.
Biarlah keberadaan Hasan menjadi teka-teki sampai dia kembali.
Aku hanya tinggal berdua dengan Mbok Ima di Bogor. Kak Ilham ke Jakarta dan
hanya satu bulan sekali dia pulang ke Bogor. Kak Nadya satu minggu sebelum Kak
Ilham pergi, dia merantau ke Negeri kincir angin meneruskan S-2 nya disana.
Tahun
terakhir di bangku SMA aku jalani dengan suka cita. Nilai akhirku pun
memuaskan. Sebenarnya Ayah Adam ingin aku melanjutkan pendidikanku ke tingkat
universitas. Tapi aku memutuskan untuk kembali ke kota kelahiranku dan
mengamalkan ilmu yang aku dapat dari Bogor selama dua tahun terakhir.
Di kota asliku ini, aku mengajar pelajaran agama di sebuah Sekolah Dasar.
Pekerjaan ini aku lakoni dengan sebaik mungkin. Aku ingin murid-muridku ini
tidak hanya pintar mengerjakan tugas tertulis, tapi juga mempraktikannya di
kehidupan sehari-hari.
“Ibu punya pacar ngga?” tanya seorang muridku. Anak SMP jaman sekarang kalau ngga
punya pacar dibilangnya ‘kuper’.
“Ibu ngga punya,” Aku tersenyum.
“Emang kenapa, Bu? Pacaran kan enak,” Anak yang lain ikut bertanya.
“Dengerin Ibu ya,” Aku memperhatikan satu per satu anak didikku. “Pacaran itu
ngga ada di dalam Islam. Itu haram. Sesuatu yang haram itu harus kita jauhi,”
Satu minggu lagi aku berusia dua puluh satu tahun. Sebenarnya aku ingin menikah
di usia itu.
“Ka, gimana? Sudah ada yang kamu suka?”
Ayah Adam bertanya perihal beberapa foto laki-laki yang Ayah perlihatkan
padaku. Ada banyak kenalan Ayah yang anaknya sudah dewasa, baik,
bertanggungjawab, dan mapan. Tapi tak satupun dari mereka yang berhasil
memikatku. Mungkinkah ini karena Hasan?
“Belum ada yang Fika sukai,”
Hari ini sangat cerah. Murid-muridku pun bermain riang gembira. Entah mengapa,
rasanya sangat disayangkan kalau hari indah ini dilewatkan dengan biasa-biasa
saja. Aku mengajak anak-anak didikku belajar di luar berbaur dengan alam. Meski
mentari sangat bersemangat menghangatkan sinarnya, anak-anak tetap ceria.
“Bu Nafika, ada yang menunggu Ibu di pintu gerbang,” Satpam Sekolah
memberitahuku.
Aku meninggalkan murid-muridku dan mengikuti Pak Satpam.
“Assalamu’alaikum...,” Seseorang mengucapkan salam.
Hasan!
“Wa’alaikumussalam...,” Aku terpaku dengan adanya Hasan di hadapanku.
“Kaifa haluk, ya Ukhti?”
“Alhamdulillah. Akh Hasan sendiri?”
“Alhamdulillah,”
Aku mengajak Hasan duduk disebuah bangku. Tak jauh dari tempat murid-muridku
belajar. Aku bisa melihat mereka dari tempatku sekarang.
“Ukhti sekarang hebat. Sudah jadi guru,” Hasan memujiku.
“Terima kasih, ana belum jadi apa-apa. Beda dengan Akhi yang sekarang sudah
sukses.”
Hasan tertawa kecil. Rasa-rasanya aku dan Hasan masih terlihat canggung satu
sama lain.
Beruntunglah, Kak Ilham segera datang dan mencairkan suasana dingin ini. Aku
bergegas meninggalkan Hasan dan Kak Ilham untuk kembali mengajar murid-muridku.
Kak Ilham mengajak Hasan beristirahat di rumah. Sembari menungguku selesai
mengajar.
Kak Nadya yang juga pulang ke Indonesia ikut bersama Kak Ilham dan Hasan ke Jawa
Tengah.
Aku berbagi kamar dengan Kak Nadya untuk sementara waktu.
“Besok Kakek dan beberapa saudaranya Hasan datang,” Kata Kak Nadya.
Aku kaget setengah mati mendengar kata Kak Nadya.
“Untuk apa?”
“Ya buat ngelamar kamu lah! Emang mau ngapain lagi?!”
“Tapi..., aku kan belum bilang setuju atau ngga,”
“Tapi kamu mau, kan?”
Aku tak kuasa menjawabnya.
“Diamnya seorang perawan itu tanda setuju,” Kak Nadya memojokkanku. “Udah,
besok siap-siap aja menyambut mereka. Oke!
Aku tak bisa memejamkan mataku. Semuanya berjalan sangat cepat dan tak pernah
kuduga bisa secepat ini. Kak Ilham pun tak pernah bercerita kalau Hasan akan
segera datang bersama keluarganya secepat ini.
“...Bismillahirrohmaanirrohiim... Dengan mengharap ridlo dari Allah, saya
menerima pinangan Akh Hasan,”
“Alhamdulillah...”
Ibu mencium pipiku dan memelukku. Neneknya Hasan, melingkarkan sebuah cincin
emas yang sangat indah nan anggun. Sementara cincin perak yang pernah Hasan
berikan dulu, aku pakai di jari tangan kiri.
“I hope you can be good wife,” ujar Neneknya Hasan.
Pernikahannya akan dilangsumgkan pada bulan Februari. Tentu saja bukan karena
ada hari valentine di bulan itu. Karena di dalam islam tidak mengenal yang
namanya budaya valentine. Selain karena bulan Januari rentan dengan hujan sehari-hari,
pernikahan ini juga butuh waktu yang tidak singkat untuk mempersiapkan
semuanya.
Lima belas Februari 2010. Hari ini cerah, secerah hatiku. Aku menikah di usiaku
yang ke dua puluh satu.
“Akhirnya, menikah juga kau hari ini,”
“Salsa...!” Aku tak menyangka dengan kedatangan Salsa.
“Afwan, aku pergi ngga bilang sama kamu. Soalnya dulu itu mendadak banget.”
Salsa cerita panjang lebar.
“Tapi bukan karena kamu marah sama aku kan?”
“Marah?! Mana mungkin aku bisa marah sama kamu. Lagian kamu bener banget waktu
nyaranin aku biar ngga pacaran sama Fahmi. Dia ternyata playboy cap terasi.
Waktu nembak aku dia udah punya dua cewek! Kurang ajar banget kan!”
Aku memeluk Salsa. Rasanya seperti menemukan kembali sesuatu yang sangat
berharga.
“Tau ngga?”
“Ngga.”
“Ustadz Mahdi..., datang ke orang tuaku dan ingin berta’aruf sama aku!”
“Oya?” tanyaku meminta kepastian dengan apa yang aku dengar. “Alhamdulillah...
Aku seneng banget dengernya! Selamat ya.”
“Kalau aku jadi nikah sama Ustadz Mahdi, kamu sama Hasan harus datang! Awas
kalau ngga!”
Salsa mengiringiku keluar dari kamar rias. Sudah ada banyak tamu diluar. Hasan
sendiri sudah ada di depan penghulu. Aku duduk dibagian tamu perempuan, dan
bukan disampingnya Hasan. Kata Kakek, tidak baik duduk berdekatan ketika belum
sah menjadi pasangan suami istri.
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha linafsi bi mahril madzkur haalan!”
“Alhamdulillah...”
Terima kasih kupanjatkan kepada-Mu Ya Allah! Untuk penantian cinta pertamaku
yang berakhir dengan indah, dan jutaan nikmat lainnya. Aku bersyukur padamu ya
alloh…