Selasa, 12 Juli 2011

Remaslah Tanganku dan Akan Kukatakan Aku Sayang Kamu


Ingatkah ketika masih kecil kamu jatuh dan terluka? Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan rasa sakit? Ibuku, Grace Rose, selalu menggendongku, membawaku ke tempat tidurnya, mendudukkan diriku, lalu mencium “aduh”-ku. Lalu ia duduk di tempat tidur di sampingku, meraih tanganku dan berkata,
“Kalau sakit, remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan Aku sayang kamu.”

Sering aku meremas tangannya, dan setiap kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata, “Mary, Ibu sayang kamu.” Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya aku memperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar, ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara untuk meringankan rasa sakit dan meningkatkan rasa senang yang kurasakan dalam berbagai bagian hidupku.

Pada hari-hari sulit di SMU, ia akan menawarkan sebatang cokelat almond Hershey kesukaannya saat aku pulang. Semasa usiaku 20-an, Ibu sering menelepon untuk menawarkan piknik makan siang spontan di Taman Eastbrook untuk sekadar merayakan hari cerah dan hangat di Wisconsin.
Kartu ucapan terima kasih yang ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia dan ayahku berkunjung ke rumahku, mengingatkanku betapa istimewanya aku baginya.

Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, “Kalau sakit, remaslah tangan Ibu dan akan kukatakan aku sayang kamu.”
Suatu pagi, saat aku berusia akhir 30-an, setelah orangtuaku berkunjung pada malam sebelumnya, ayahku meneleponku di kantor. Ia selalu berwibawa dan jernih saat memberi nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung dan panik dalam suaranya.

“Mary, ibumu sakit dan aku tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari.”
Perjalanan mobil 10 menit ke rumah orangtuaku diiringi oleh rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibuku. Saat aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di dapur sementara Ibu berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang mungkin.

“Bu, aku sudah datang.”
“Mary?”
“Iya, Bu.”
“Mary, kaukah itu?”
“Iya, Bu, ini aku.”
Aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa.
“Mary, apakah Ibu akan mati?”

Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang ibuku tercinta terbaring di situ tak berdaya. Pikiranku melayang, sampai pertanyaan itu terlintas dalam benakku: ‘Jika keadaannya terbalik, apa yang akan dikatakan Ibu padaku?’
Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun, menunggu kata-kata itu tiba di bibirku.
“Bu, aku tak tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau memang perlu, tak apa-apa. Aku menyayangimu.”
Ia berseru, “Mary, rasanya sakit sekali.”
Lagi-lagi, aku bingung hendak berkata apa. Aku duduk di sampingnya di tempat tidur, meraih tangannya dan mendengar diriku berkata,

“Bu, kalau ibu sakit, remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang padamu.”
Ia meremas tanganku. “Bu, aku sayang padamu.”
Banyak remasan tangan dan kata “aku sayang padamu” yang terlontar antara aku dan ibuku selama dua tahun berikutnya, sampai ia meninggal akibat kanker indung telur.
Kita tak pernah tahu kapan ajal kita tiba, tapi aku tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali, “Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan, aku sayang padamu.” Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang anda cintai adalah dengan memegang dan meremas tangannya dengan lembut.
Tindakan itu kadangkala mengandung makna dan arti yang teramat dalam yang hanya dapat dipahami antara anda dan orang yang anda cintai………….

Minggu, 05 Juni 2011

Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?”, tanya si pemuda.
“Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke-2”, jawab ibu itu.
”Wow, hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahunya, pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.
”Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang ke-2 ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?”
”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita:
”Anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 kerja di perkebunan di Lampung, yang ke-5 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-6 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke-7 menjadi Dosen di Semarang.”

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak ke-2 sampai ke-7.
”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?”
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab,
”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut,
“Maaf ya Bu…...kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedangkan dia cuma menjadi petani.“
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
”Ooo, tidak, tidak begitu nak...justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani.”


Pelajaran: Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara, “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi "APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN ?”

Ketika merindukanmu, aku bicara tentang cinta: mencintai (mu) tidak lebih dari sekedar menunggu.



Ketika merindukanmu, aku bicara tentang cinta: mencintai (mu) tidak lebih dari sekedar menunggu

Cinta yang fitri kata orang bijak adalah buah yang tak mengenal musim dan dapat dipetik oleh siapa pun. Begitulah seharusnya kamu mencintaiku dan sebaliknya.
Ketika seperti itu, risiko yang harus dihadapi adalah jika ternyata kamu mencintai orang lain atau sebaliknya orang yang kamu cintai telah sedang mencintai orang lain. Kalo emang tulus, yaa ikhlas bukanlah suatu pilihan melainkan keharusan.

Mencintai, ketika sekarang, ketika masih seorang lajang adalah tidak lebih dari suatu penungguan. Menunggu sampai seseorang yang memang ditakdirkan oleh-Nya datang. Menunggu apakah orang yang kita cintai sekarang adalah memang dia orangnya, atau seseorang yang kita cintai sekarang tidak lebih dari buku untuk mempelajari cara mencintai seseorang yang akan dikirimkan oleh-Nya.

Mencintai adalah pilihan. Analoginya adalah:
Seseorang yang begitu kamu kenal, katakanlah sahabatmu, mengabarimu, entah dari telpon, sms, imel, fesbuk, twitter, ym atau apapun, bahwa seseorang akan datang untuk menemuimu pada suatu saat nanti, meskipun belum ada penjelasan tentang kapan tepatnya seseorang itu datang, temanmu hanya bilang bahwa seseorang itu PASTI akan datang. Sebelum mendapatkan kabar dari temanmu itu, kamu adalah seseorang yang punya kesibukan, entah itu kuliah, bekerja atau sekedar melakukan kegiatan kecil lainnya. Lantas, setelah mendengar kabar itu apa yang kamu lakukan? Menghentikan semua aktivitas dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya, atau sekedar menunggu dengan tetap melakukan rutinitas seperti biasa? Semuanya adalah pilihan. Menunggu atau pun tidak, seseorang itu pasti akan datang.

Begitu juga dengan mencintai seseorang. Allah sudah menuliskan tentang 4 hal yang pasti terjadi dalam kehidupan kita, salah satunya adalah jodoh. Ketika kita tahu bahwa seseorang akan datang, apakah lantas kita akan berdiam diri? Itu adalah pilihan.


Ketika suatu waktu, setelah kita baligh. Perasaan cinta kepada seorang lawan jenis merupakan hal yang wajar. Ketika kita bertemu dengan seseorang, seketika ada yang membuat jantung kita berdegup dan kita biasanya kita akan dibuat gelisah, sampai akhirnya memutuskan bahwa kita telah jatuh cinta pada seseorang tersebut. Sejak saat itu kita kerap menyisihkan waktu untuk membayangkannya, mencoba melukiskan wajahnya di kanvas hati kita, atau sekedar memejamkan mata untuk mengatasi kerinduan yang kian hari kian bermekaran. Ah, na’udzubilah. Cinta yang disebabkan karena kecintaan kita kepada Allah tidak akan mungkin sampai menjerumuskan kita pada titik kesalahan, dosa.

Semakin dewasa, seharusnya kita semakin sederhana dalam mencintai seseorang. Jangan sampai perasaan cinta itu melebihi apa yang kita persembahkan kepada Allah. Ketika kamu mencintai seseorang, ketika cinta it uterus kita rawat, percayalah cinta itu akan tumbuh subur di hati kita. Sekali lagi itu adalah pilihan yang tidak perlu kita permasalahkan. Namun, terkadang kita salah dalam menafsirkan perasaan cinta yang kita tumbuh kembangkan kepada seseorang. Ketika kita tahu bahwa orang yang kita cintai itu mencintai orang lain, setelah banyak pengorbanan kita akukan untuknya, kita akan kecewa, bahkan marah. Na’udzubillah.


Coba sekali lagi kita renungkan. Mencintai seseorang, ketika kita adalah seorang lajang, adalah sebuah pilihan. Ketika kita memilih untuk tidak mencintai siapa pun, seseorang akan tetap datang, sebab Allah telah menciptakan kita secara berpasang-pasangan.

Namun perasaan cinta adalah anugerah, yang jika kita mampu merawatnya dengan baik, itu akan menjadi sebuah berkah. dalam penungguan itu, kita pasti akan bertemu banyak orang. kita tidak pernah tahu kapan akan mencintai seeorang, atau bahkan tiba-tiba mencintai orang lain, lalu tiba-tiba melupakan. percayalah, cinta itu adalah karunia-Nya. yang karunia itu tidak akan pernah hadir jika Allah tidak menghendakinya,

Dan mencintaimu, adalah keberuntungan. Sebab darimu aku belajar bagaimana menjadi ikhlas ketika aku tahu bahwa kamu belum juga mengerti apa yang kurasakan, menjadi ikhlas karena telah mempersiapkan diri jika akhirnya aku tahu bahwa kamu sedang mencintai oang lain, menjadi ikhlas sebab aku tahu, seseorang pasti datang untukku. Aku sepenuhnya menyadari, untuk apa sakit hati ketika tahu bahwa kamu tak mencintaiku. sebab mencintai (mu) tidak lebih dari sekedar menunggu, bahkan mengisi waktu luang sambil online, makan coklat, baca buku atau apalah. yaah, walau terkadang, ketika sepi benarbenar berwajah rindu, aku akan bersedih, tak tahu kenapa aku harus bersedih.

Kamis, 05 Mei 2011

Selalu ada Harapan

Tatkala satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka, tetapi sering kita begitu terpaku lama pada pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pintu yang terbuka di depan kita (Helen Keller).

Manusia lebih banyak terpaku dan memperhatikan berbagai hal negatif daripada melihat hal yang positif. Keburukan atau kesalahan seseorang lebih mudah diingat dibandingkan dengan banyak hal positif yang telah dilakukannya. Hal ini terbentuk karena sejak kecil kita dididik untuk lebih melihat hal yang negatif, misalnya waktu ulangan kita selalu mendapat penekanan tentang salahnya; guru berkata “Kamu salah 2”, padahal ada 18 soal yang benar, tetapi tidak pernah dikatakan “Kamu benar 18”.

Selain itu, kita pun sering memikirkan terus hal negatif yang telah terjadi; kita menjadi kecewa dan berpikir “seandainya …”, misalnya “seandainya saya tidak lakukan hal tersebut, maka hal itu tidak terjadi”, “seandainya saya tidak pergi, pasti saya selamat”, dan lain-lain. Dengan memikirkan kegagalan yang telah terjadi terus menerus, tidak ada gunanya, karena hal tersebut tidak mungkin mengubah keadaan yang telah terjadi. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dan melihat bahwa masih banyak harapan dan peluang bagi kita.

Untuk setiap peristiwa yang kita alami pasti ada dampak positifnya bagi kita, hanya memang pikiran kita bersifat instant. Selain itu kita terus memikirkan peristiwa tersebut karena harapan yang telah kita rancang sebelumnya tidak terwujud. Kegagalan masa lalu tersebut minimal memberikan makna bahwa kita perlu terus belajar dan mencari cara baru untuk menyelesaikannya. Kita pun perlu terus melihat ke depan dan melihat peluang lain yang ternyata masih banyak di depan kita, karena percayalah Tuhan memiliki rencana yang indah bagi kita dan terjadi tepat pada waktunya. Amin …

Makna Kegagalan


KEGAGALAN mengajarkan kita untuk rendah hati dan berfungsi untuk menguji daya tahan kita. Kegagalan juga menunjukkan bahwa kita butuh bantuan orang yang tepat untuk selanjutnya (Paulus W).

Tentu saja tidak ada orang yang mau gagal, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses menuju keberhasilan. Tidak mungkin kita meraih keberhasilan tanpa persiapan, tetapi persiapan yang sebaik apa pun tidak menjamin memberikan keberhasilan, karena masih banyak faktor lain yang mempengaruhinya, misalnya tindakan pesaing, keinginan konsumen, perubahan suhu, serta tentu saja kehendak dan rencana Tuhan.

Jadi kegagalan itu merupakan hal yang alami dan dialami oleh semua orang; tidak ada orang yang tidak pernah mengalami kegagalan. Yang penting, jadikanlah kegagalan yang kita alami sebagai batu pijakan untuk melangkah maju. Janganlah menyerah karena kita hanya satu atau dua kali mengalami kegagalan. Thomas Alfa Edison mengatakan bahwa ia ratusan kali gagal, sebelum berhasil menemukan lampu pijar. Saat kita gagal kita membutuhkan semangat untuk melanjutkan dan jangan pernah menyerah.

Di sisi lain, kegagalan juga membuat manusia tidak menjadi sombong. Bayangkan bila ada orang yang tidak pernah gagal …. Lama kelamaan ia akan merasa dirinya hebat, sangat hebat, dan jangan-jangan menganggap dirinya dewa atau bahkan tuhan. Kegagalan membuat kita rendah hati dan menyadari bahwa ada faktor lain yang menentukan keberhasilan kita, misalnya kita membutuhkan bantuan orang lain dan tentu saja pertolongan dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Bila kita gagal, berarti ada sesuatu yang kurang dalam diri kita; untuk itu kita perlu belajar lagi. Jangan putus asa, karena banyak orang mengatakan bahwa kegagalan merupakan sukses yang tertunda. Bila kita jatuh, jangan terus meratap, tetapi segera bangkit kembali karena kita masih memiliki harapan untuk meraih kesuksesan pada masa yang akan datang.

Proses Pertemanan


Pertemanan itu seperti sebuah buku; hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.

Untuk mencari seorang sahabat dibutuhkan waktu yang lama, sedangkan mencari musuh dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Untuk mencari musuh yang banyak, dibutuhkan waktu sekejap, sedangkan untuk mencari sahabat yang cocok dan dapat dipercaya dibutuhkan waktu yang lama.

Untuk mendapatkan sahabat sejati membutuhkan proses yang tidak mudah dan waktu yang tidak sedikit. Hal ini dapat diibaratkan dengan proses menulis sebuah buku yang mungkin membutuhkan waktu beberapa tahun. Tetapi untuk menghancurkan sebuat buku hanya butuh waktu sekejap saja. Hal yang sama terjadi bila kita memutuskan tali pertemanan; hal yang kecil dalam waktu singkat dapat mewujudkan hal tersebut.

Jadi teman atau sahabat yang sudah ada janganlah disia-siakan, tetapi teruslah mempererat hubungan dengan jalan membangun empati, saling memperhatikan, dan saling mengasihi. Ingatlah bahwa persahabatan merupakan suatu investasi yang sangat berharga.

Selasa, 05 April 2011

Belajar Dari Kesalahan


Tiap orang harus mawas diri dan selalu mengevaluasi tindakannya, yang salah dan benar. Orang yang tidak mengenal kesalahannya, tidak pernah mengenal kebaikannya (Joan Chittister).

Tidak ada orang yang selalu benar, semua orang pasti pernah berbuat kesalahan. Berbuat salah itu normal, asalkan kita mau belajar dari kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya lagi. Kita perlu mengevaluasi setiap tindakan yang telah kita lakukan; periksalah apakah tindakan tersebut benar atau salah. Bila benar kita perlu mempelajari berbagai faktor kunci keberhasilannya, dan memikirkan bagaimana meningkatkannya lagi. Sedangkan bila salah kita perlu mencari sumber kesalahannya, dan mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut, sehingga tidak terulang kembali.

Bila ada orang yang berprinsip bahwa semua yang terjadi hanya kebetulan, maka ia tidak akan pernah maju, karena tidak pernah mau belajar. Ia hanya mengalir mengikuti air; syukur bila dibawa ke air yang jernih, tetapi akan sangat menderita bila dibawa ke air yang kotor dan beracun.

Jadi kita perlu selalu mawas diri dan mengevaluasi setiap tindakan kita; pelajari semuanya sehingga kita mendapat banyak manfaat demi kemajuan kita. Amin …