Senin, 21 Maret 2011

" Doa untuk Laki-laki Berwajah Sholeh "


Salah satu hiburan yang paling berarti bagiku sebagai orang tua tunggal adalah memandangi kedua buah hatiku dalam lelap mereka. Dua wajah mungil yang menggemaskan dan tampak lucu.

Menatap mereka selalu mengalirkan ketentraman. Seolah mereka menghiburku dan mengatakan,
"Semuanya akan baik-baik saja, Mama..."


Allah tahu, selama ini aku berusaha untuk menerima takdir-Nya. Bahkan ketika proses perceraian itu terjadi.

Satu-satunya kesedihan barangkali karena melihat anak-anak besar, hanya dalam kasih sayangku. Apalagi si kecil, yang bahkan sejak lahir belum pernah bertemu ayahnya.

Perasaan bersalah karena hal itu mau tidak mau menelusup di hati. Membuat hari-hari setelah perceraian penuh dengan tekad dan doa yang kulantunkan setiap saat,
"Ya Allah, tolong berikan kedua buah hatiku seorang ayah yang baik dan selalu menyayangi mereka seperti anak kandungnya sendiri."


Ya, suatu hari nanti, Mama akan berikan ayah untuk kalian, Nak... suatu hari ! Janjiku. Keinginan yang mungkin terlalu muluk untuk sosok perempuan sederhana sepertiku.

Perlahan mata di hadapanku terbuka, lamunanku kontan buyar.

"Maa.. " Teriaknya sambil meloncat turun dan menarik-narik tanganku, "Mau mandi, Ma!"
  • TPA dekat Masjid


Selesai memandikan anak-anak dan melepas mereka mengaji di TPA yang berlokasi di masjid, aku pun bergegas mengerjakan rutinitas rumah tangga.

Hari sudah hampir gelap ketika aku teringat pakaian yang belum diangkat dari jemuran. Dengan tergesa aku menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas,

"Mama..." Teriak anakku yang kecil memanggil, kebetulan lantai atas tempat aku menjemur pakaian memang terlihat dari masjid.

Aku melambaikan tangan dan dengan senyum membalas panggilan anakku, yang segera bergabung dengan teman-temannya.

Tiba-tiba mataku singgah pada seorang guru TPA yang sedang bercanda dengan anak-anakku. Hmm, lelaki berwajah sholeh, pikirku terenyuh melihat keriangan anak-anak dan betapa manjanya mereka pada lelaki itu. Kegembiraan yang terpancar jelas dari wajah dua buah hatiku.


Menjelang maghrib, saat aku dan anak-anak kembali ke masjid untuk sholat berjamaah, sosok gagahnya kembali tertangkap mataku meski sekilas.


Sejak hari itu, diam-diam aku rajin mengamatinya. Wajah yang bersih dan bersahaja.

Kuperhatikan keakraban dia dengan anak-anakku setiap mereka mengaji. Sebentuk perasaan kagum dan simpati memenuhi hatiku, tumbuh semakin besar dari hari ke hari.

  • Rasa ini

Perasaan menyenangkan sekaligus membuatku terjerembab.
Ya Allah... laki-laki itu masih muda. Sementara aku?


Demi Allah, hatiku sedih dan bertanya dalam hati, mana mungkin dia mau mengenal dan tertarik dengan perempuan yang sudah memiliki dua anak ini?

Astaghfirullah...

Kutatap wajah anak-anak... teringat doa yang seringkali kuulang. Tapi... ini seperti pungguk merindukan bulan. Bahkan jatuh cinta seharusnya tetap membuat orang tahu diri. Seharusnya sejak melihatnya pertama kali aku bercermin. Aku kembali beristighfar. Mengapa hati ini justru tertarik pada laki-laki yang tidak mungkin kuraih?

Tapi bahkan kesadaran itu tidak menghentikanku dari memperhatikan guru TPA itu. Seperti murid
yang mengerjakan pe er, aku mulai giat mencari informasi tentang kehidupannya; dari mana dia berasal, di mana kuliahnya, pokoknya semua tentang lelaki itu.

Buruknya, semua tambahan info justru menambah perasaan terhadapnya. Belakangan kusadari ada
desir lain yang aneh di hatiku.

Sosoknya yang ramah juga keakrabannya dengan anak-anak terus bermain di mataku. Sikapnya yang terkesan tulus dan penuh kasih sayang. Rasa yang awalnya hanya berupa kekaguman dan simpati kini membumbung jauh menjadi keinginan untuk memiliki.
Salahkah, ya Allah? Dosakah jika aku ingin lelaki itu menjadi suamiku, yang berarti juga sebagai ayah bagi anak-anakku?

Aku tahu, aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang ibu dari dua anak, yang tidak terbilang cantik dan menarik. Apa yang kupunya?


Anehnya kepasrahan itu justru menuntunku pada doa-doa panjang, yang senantiasa kupanjatkan dengan rasa khusuk, dengan rasa ikhlas dan percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.
Allah Maha Kuasa... adakah yang tidak mungkin jika Dia berkehendak?

Allah Maha Mengetahui.

Kuserahkan segenap perasaanku pada keputusan-Nya...
Ya Allah, Engkau pasti tahu segala yang ada di dalam hatiku.

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berdoa dan bermohon karena hanya Engkau yang Maha Kuasa, Maha Tahu apa yang terbaik untuk hidupku.

Ya Allah, jika boleh aku memohon kepada-Mu dan jika memang Engkau berkehendak jadikanlah dia pendamping hidupku, jadikanlah ia suami sekaligus ayah bagi anak-anakku dan jika menurut Engkau dia terbaik untukku maka kabulkanlah doaku ini.


Kulewati hari-hari dalam doa yang sama. Sambil menikmati kebersamaan dengan anak-anak. Bayangan kebahagiaan mereka menjadi pemacu semangat bagiku untuk berdoa lebih sungguh-sungguh.

Hingga suatu hari, kulihat sang guru sedang serius berbicara dengan seorang perempuan yang tidak lain juga guru TPA di sana. Entah kenapa tiba-tiba hati ini menjadi tidak keruan, ada rasa tak suka. Ya, semacam cemburu.

Mendadak hari-hariku disisipi kesedihan. Sambil lalu kucoba untuk menelidiki dan bertanya kesana kemari. Fan berita yang kudengar sungguh mengobrak-abrik hati.

Tetangga-tetanggaku bilang perempuan itu memiliki hubungan khusus dengan dia. Bahkan ada yang mengatakan perempuan itu adalah calon isteri pak guru.
  • Catatan Hati di Setiap Sujudku

Berita itu membuatku lemas. Seharian aku bersedih. Air mata yang mendesak-desak dan kutahan berjam-jam, agar anak-anak tidak mengetahui keresahan mamanya, akhirnya tumpah juga saat selesai sholat.

Malam itu aku menangis dan menangis, sampai-sampai Ibu yang kebetulan menginap menjadi bingung,
"Ada apa? Kenapa menangis, Nduk?"


Dulu Ibu yang menjadi tempat curhatku sejak sebelum menikah. Maka malam ini seperti gadis remaja, aku tumpahkan kesedihan kepada ibu. Nasihat ibu singkat dan penuh nada sayang,
"Ingat kepada Allah, Nduk. Biar Allah yang membantu perasaamu supaya tenang. Ingat Allah sayang..."


Doa-doa yang selama ini kususun, kali ini kukuatkan dengan tahajud. Dan setiap menyelesaikan sholat malam, aku mengingat kembali nasihat ibu.

Maka kepada-Nya yang selama ini kupercaya telah melindungiku dan anak-anak, bahkan ketika lelaki yang seharusnya menjaga kami meninggalkan rumah, kupanjatkan permohonan,
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah dan penuh dosa ini," bisikku parau.

Ya Robbi, Maafkan hamba-Mu jika keinginan untuk memilih lelaki itu sebagai pendamping hidupku adalah berlebihan. Engkau Maha Mengetahui.

Ya Allah kalau memang dia bukan jodohku bolehkah aku memohon, berikanlah aku suami yang seperti dia, laki-laki yang baik, sholih dan menyayangi anak-anakku.

  • Pindahan

    Tetapi meski sebulan berlalu, perasaanku masih sedih. Kucoba untuk mulai menjauh dan tidak memperhatikan dia, walaupun sesekali waktu sholat di masjid pandanganku masih menangkap wajahnya.

    Kesedihan itu mendorongku untuk menyetujui kepindahan ke Solo. Terkait berita kepindahanku, dalam satu kesempatan, sebagai guru anak-anak, lelaki itu sempat memberikan nomor HP-nya. Mungkin dia tahu dari Bapak, mereka memang beberapa kali berpapasan dan mengobrol di masjid, entah tentang apa.

    Ketika masa kepindahan tiba, Bapak yang menjemputku dan bingung harus meminta bantuan siapa untuk mengangkat baran-barang, mendadak teringat pada sang guru, dan memberanikan diri meminta bantuan lelaki itu dalam pindahan kami.

    Anak-anak bersorak, aku juga, meski diam-diam, ketika laki-laki yang baik ini menyetujui. Bahkan belakangan dia dan seorang teman lain yang sama-sama aktif mengajar malah ikut hingga ke Solo.

    Di sela-sela kesibukan mereka mengangkut barang-barang, sempat kudengar bapak bercerita kepadanya tentang kehidupanku sebagai janda dengan dua anak.

    Malam, setelah dia membantu pindahan, untuk pertama kali kuberanikan menegurnya. Di dalam hati, aku berharap meskipun dia tidak bisa menjadi jodohku, mudah-mudahan kami bisa berteman baik.

    Setelah hari itu komunikasi kami berlanjut, lewat obrolan ringan atau SMS. Dari situ aku kemudian tahu bahwa ternyata perempuan yang diberitakan sebagai calon isterinya hanyalan teman satu pekerjaan.
    "Saya tidak mengenal istilah pacaran, karena Islam tidak mengajarkan kebersamaan seperti itu sebelum ada ikatan yang halal, dan ikatan yang halal itu adalah pernikahan, " begitu penjelasan panjang lebarnya padaku.


    Perasaanku lega.

    Harapan kembali muncul. Mula-mula setitik, dan semakin membukit seiring pertemanan kami. Aku semakin rajin berdoa dan meminta kepada-Nya,

    Jika itu baik menurut-Mu ya Allah... izinkan dia menjadi bagian keluarga kami..

    Aku tidak ingat berapa lama doa-doa itu kupanjatkan. Yang jelas suatu hari lelaki itu datang, dan dengan kikuk menanyakan hal yang tidak biasa, bersediakah aku menjadi istrinya?

    Mimpikah? Benarkah lelaki ini melamarku?

    Air mata rasanya tidak sabar menerobos kelopak. Aku ingin menangis, tapi malu. Akhirnya malah pertanyaan bertubi-tubi yang meluncur dari mulutku,
    Apakah aku pantas mendampingimu?

    Apakah aku pantas menjadi istrimu?

    Apa kamu tidak malu memiliki istri yang sudah beranak dua ini?


    Dengan senyumnya yang teramat manis, lekaki itu mempertegas niat dan maksudnya.


    Begitu sungguh-sungguh hingga aku tertegun. Beginikah ketika cinta bertasbih? Padahal inilah permintaan yang selama ini kumohonkan ke hadirat Allah yang Rahman.
    Anehnya, ketika doaku mendekati terkabulnya, aku malah ragu, dan bertanya-tanya dalam hati,
    Kenapa dia mau menikah denganku?

    Bukankah dari segi fisik aku biasa-biasa saja? Masih banyak teman-teman kuliahnya yang cantik dan berbadan bagus.

    Dan perbedaan umur kami?

    Jelas-jelas aku jauh lebih tua dibanding dia. Sementara di sekelilingnya banyak perempuan muda dan menarik. Gadis-gadis yang belum punya momongan.

    Di atas semua pertanyaan itu, siapkah lelaki itu untuk menyayangi anak-anakku seperti darah dagingnya sendiri?


    Hari-hariku mulai berbunga, tapi masih banyak keraguan terselip di benak.

    Namun hari demi hari, lelaki itu semakin menunjukkan niat dan keinginannya yang sangat besar untuk menikah denganku. Dengan cara yang baik, lelaki itu menunjukkan betapa dia menyayangi keluarga kami.

    Tapi kebahagiaanku masih dipenuhi berbagai kekhawatiran. Jika dia yakin untuk menikah denganku, apakah keluarganya akan merestui pernikahan putra mereka dengan janda beranak dua?

    Pertanyaanku berjawab ketika suatu hari aku menemui orang tuanya. Allah Maha Penyayang, Maha Pengasih ternyata orang tua dan keluarga menyetujui dan merestui dia menikah denganku.

    Mengetahui itu, aku langsung memanjatkan doa dan bersujud syukur kepada Allah.

    Begitulah, kami akhirnya menikah.

    Rumah tangga terasa damai dan dipenuhi kebahagiaan. Sekarang tidak hanya aku yang sering berlama-lama menikmati wajah anak-anak yang terlelap, tapi kami berdua.

    Kurasakan juga kebahagiaan anak-anakku yang telah memiliki ayah kembali.

    Alhamdulillah...

    Terima kasih ya Allah.


    Telah Kau penuhi janjiku untuk memberikan seorang ayah yang baik, sholeh, dan penuh kasih sayang, kepada anak-anakku.


    diambil dari Buku "Catatan Hati di Setiap Sujudku" (ASMA NADIA) - di bawah judul : Doa untuk Laki-laki Berwajah Sholeh.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar